Runtuhnya Teori Keby

Runtuhnya Teori Keby

Runtuhnya Teori Keby



Keigan meluruskan poninya yang sedikit acak. Dia meraih dasinya. Sekarang tangannya terampil memainkannya. Sesaat kemudian Keigan berpose di hadapan kaca setengah tingginya. Keigan merapikan kerah seragamnya dan memasukkannya ke dalam celana abu-abunya. Selesai! Dia tersenyum.
          Tidak ada roti tawar kali ini. Seperti permintaannya. Malahan Keigan mulai terbiasa. Sarapannya cukup nasi dengan tempe penyet ala Bunda. Tapi enak. This is the real Indonesia!
          “Kei!” teriak Bunda dari teras, sibuk menyapu.      
          Keigan tahu, dia harus bergegas. Karena makhluk di luar sana sudah pasti menunggu. “Just a minute!” sahutnya, melahap tempe penyet terakhir.
          “Hei Kei, cepetan!” seru laki-laki yang sudah siap menaiki sepedanya.
          Keigan menurut. Betapapun, dia mesti duduk di belakang, tanpa sabuk pengaman! Justru itu yang membuat Keigan deg-degan, setiap Keby menancapkan pedal, dia akan histeris. Dan, Keby puas. Tapi kali ini, Keby tidak ingin bergurau dengannya. Keby hanya melaju konstan dengan percepatan nol.
          First?” tawar Keby.
          Just, ladies first… “ jawabnya.
          Keby menarik tangan Keigan. Mereka mengendap-endap dari belakang pos satpam. Dan, huup! Keduanya berhasil loncat dari pagar sekolah. “Penuh perjuangan!”
          “Seperti hidup ini,” Keigan berlagak bijak.
          Dan, Madam Sekar yang berdarah Ambon mendapati keduanya.
          So, Keigan, Keby, berikan alasan logis untuk saya!?”
          “Kenyataan bahwa probabilitas keterlambatan kami sangat tidak mungkin adalah nol. Hngg, banyak faktor terkait dengan itu, Madam!”
          “Jangan bertele-tele! Terangkanlah!”
          “Seperti Madam katakan, kami adalah dua sejoli dengan karakter yang bersamaan, like identical twins. Tapi sungguh, kami mendapati seorang nenek renta yang meminta pertolongan  untuk diseberangkan!”
          “Sungguh?” Madam Sekar menyeka air mata harunya mendengar pengakuan Keby. “Silahkan!”
          Keby memainkan mata ke arah Keigan. Liar!
***
          Science Project Expo 2014 akan segera digelar. Segalanya bakalan seru. It start from experiments, debates, and scientific works! Tapi Keigan belum menemukan topik yang pas. Butuh sedikit pencerahan dengan itu.
          Setelahnya berkutat menghasilkan kebuntuan. Keigan menyusuri trotoar sepanjang jalan
“Hei, kamu yang bodoh!” Keigan menoleh.
          “Siapa?”
          “Mana duluan, ayam atau telur?”
          “Sudah kubilang, ayam!”
          “Bodoh! Ayam menetas dari telur, seharusnya telur dulu!”
          Keigan mengerutkan jidat. “Hei, sudah!”
          “Menurut Kakak, siapa duluan?”
          Keigan terdiam. Dia tidak bisa menjawab. Mulutnya hendak memilih pada konsep penciptaan. Tapi dia urung.
          “Lihat, Kakak itu saja tidak bisa menjawab pertanyaan bodohmu!” tuding si anak.
          Keigan lucu melihat keduanya. Dan, dia melihat sisi lainnya. “Hmm, Science could taken from anything!” gumamnya. “Eurekaa!!!
          Kedua anak itu saling berpandangan heran. Keigan acuh sambil berlalu.
          Hari dimana penentuan topic. Dan seperti persepsi Keigan, dia menempati bidang Biology. Tentunya Keby juga. Tapi, bisakah mereka bekerja sama?
          “Now, listen. Keby and Keigan, you get the same topic, evolution,” seru Madam Sekar. “And, I’ll take the concept identical twins away from you two. Sekarang, kalian adalah twin paradox Einstein. Karena detik ini, kalian adalah rival!”
          Keigan menelan ludah. Keby hanya santai menanggapinya. Kelas hari ini, bubar. Semakin dekat, Keigan bertambah risau. Actually, he never won against Keby, in everything! Keigan just rely on his concistency as a man.
          The battle is begin now.
          “Mr. Keigan, apa alasan anda mengatakan hal tersebut?”
          As you know, a scientist probing the universal accurately, will find more two hundred fifty billion galaxys.
          So, hanya karena itu anda bisa mematahkan teori bigbang, Mr. Keigan?” sindir Keby. “Oh, come on! Saya harap anda tidak senaif itu!”
          “Jangan mendiskreditkan saya. Ini hanya mengenai logika. Bisakah jagad raya seteratur ini tanpa Sang pemilik?”
          “Saudara Keigan, tolong berikan analisis yang ilmiah!”
          “Kita kembali pada konsep evolusi. “The Origin of Species”. Darwin mengklaim, seluruh spesies di bumi haruslah dari satu nenek moyang yang sama. Tapi bagaimana makhluk hidup muncul pertama kali? Darwin tidak pernah menjawab pertanyaan itu.”
          “Menarik! Stanley Miller, pada 1953 telah menenggelamkan pendapat anda, saudara Keigan. Bahwa ilmu biologi sudah membuktikannya. Sel pertama muncul dari akumulasi gas primitif di atmosfir,” sangkal Keby.
          “Akan tetapi, pada akhirnya penemuan membuktikan gas tersebut bukanlah gas awal pada atmosfir bumi.” Keigan terlihat meyakinkan. “Miller sendiri mengakui kemustahilan eksperimennya!”
          “Seperti itu. Orientasi seleksi alam sudah terbukti. Seperti juga beberapa fosil yang telah ditemukan?”
          “Fosil apa?”
          “Haruskah saya sebutkan, saudara Keigan?”
          Keigan mengangguk.
          “Kenyataan bahwa manusia berasal dari evolusi kera, seperti fosil Australopithecus?
          “Anda mengada-ada! Sebelas dua belas dengan tengkorak simpanse!”
          “Bagaimana dengan Homo ergaster, Homo erectus dan Homo sapiens?
          “Analisis telah membuktikan, saudara Keby, ketiganya tidaklah berbeda dengan manusia sekarang. Perbedaan pada struktural tengkoraknya saja, yang biasa ditemukan pada beberapa ras manusia.”
          “Hmm,” Keby mulai berpikir lagi. “Maksud anda ini hanya fiktif belaka?”
          “Bahkan inilah yang disebut rekayasa konstruksi. Dari tengkorak Neanderthaloid dihasilkan karya rekaan dengan merekonstruksi wajah simpanse. Saya tekankan sekali lagi, ini adalah fenomena hipnotis massal dari para evolusionis. Buku pelajaran, gambar, dan film mengenai manusia dan kera, sama sekali tidak memiliki nilai ilmiah yang memadai!” tegas Keigan mantap.
          “Penjelasan anda terlalu umum, Saudara Keigan. Coba lebih spesifik lagi,” ujar juri ketiga.
          “Saya berpegang pada teori penciptaan, bukan Spontaneous Generation. Kesimpulannya, teori evolusi sama sekali mengada-ada!”
          “Cukup berani!” seru juri menyaksikan. Siswa memberi tepuk tangan.
          “Sepertinya kita sudah tahu siapa pemenangnya?” tanya juri kedua.
          Dan, hal yang tidak terduga bisa terjadi. Keigan menang. Keby kalah telak. Teori Keby runtuh. Sebagai hadiah, sepasang tiket ke Singapura lengkap dengan voucher belanjanya. Asyik!
          “Sepertinya kau akan mengakui kemenanganku?” sindir Keigan berbisik ke telinga Keby.
          “Siapa bilang?” sahut Keby. “Tapi, benar!”
          Two departure?
          So, what’s the plan?
          We’re going to shopping! Arghh!”
          Keby tersenyum, merangkul Keigan erat. Singapore, we’re coming!

Penulis : rezaharahap, sang owner dari blog ukmsumut

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar

Komentar Link Promo Akan Masuk SPAM